Minggu, 27 September 2020

 


 

Kisah Cinta Cabai dan Tomat

Kisah ini bermula di sebuah Pegunungan Nuansa Bening tempat dimana bak surga bagi apapun yang tumbuh di atas tanahnya. Gemericik bunyi air seakan bernyanyi bersama kicauan burung. Tanaman hijau menghampar luas diselingi bunga-bunga bewarna warni yang tengah dihinggapi kumbang. Di tepi aliran sungai, tampak dua sejoli sedang memadu kasih, yaitu Cabai dan Tomat. Begitu tampak keceriaan pada air muka mereka seakan tak ada satu hal di dunia ini pun yang mampu mengalahkan kebahagiaan mereka. Mereka saling berkejar-kejaran, berlari-larian, dan bercumbu mesra, ilalang hijau menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka hari itu. Suasana pecah ketika di bawah sebuah pohon rindang mereka berhenti dan tiba-tiba terlontar pertanyaan dari mulut Tomat.

“Cabaiku sayang, jika suatu hari nanti aku terlebih dahulu pergi mendahuluimu, apa yang akan kau lakukan?” Tanya Tomat  sambil menatap dalam mata Cabai.

“Hei, apa yang kau katakan? Kita akan terus bersama, tidak ada yang akan pergi,aku akan tetap di sismu dan kau juga akan tetap di sisiku selamanya,” jawab Cabai dengan nada tegas sedikit mengiba.

“Tapi, di dunia ini tak ada yang abadi, cepat atau lambat, mau tak mau, terima tak terima semua akan mati sayang,” ucap Tomat melirih.

“Sayangku, jikalau pun maut datang terlebih dahulu kepada salah satu diantara kita, percayalah jika itu terjadi padamu, aku akan terus membersamaimu. Dan jika itu terjadi padaku, masih sudikah engkau membersamaiku?” Tanya Cabai sambil menggenggam tangan Tomat.

“Ya, aku mau,” jawab Tomat singkat karena tak kuasa menahan air matanya, ia langsung memeluk cabai dengan erat, seakan itu adalah pelukan terakhir mereka.

Entah mengapa perasaan Tomat menjadi tak karuan, ia merasa sesuatu akan terjadi.

Cabai merasa heran ia pun langsung bertanya kepada Tomat

“Mengapa kau menanyakan hal yang seperti tadi?”

“Tidak apa-apa, aku hanya ingin bertanya dan aku telah menemukan jawabannya,” jawab Tomat sambil berusaha menyembunyikan kekhwatirannya.

Cabai membisikkan di telinga tomat

“Aku sangat mencintaimu, dan semuanya akan baik-baik saja sayang”

Kata-kata yang diucapkan Cabai membuat perasaannya menjadi lebih tenang.

“Aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu,” balas Tomat.

Dua minggu sudah tomat terbaring tak berdaya. Kondisinya semakin memburuk. Cabai yang selalu setia menemaninya bahkan merasa mulai putus asa.

“Tidak, aku tak boleh menyerah, kekasihku harus segera sembuh” ucapnya sambil terus mempercepat langkahnya yang sekonyong-konyong karena rasa lelah yang terkalahkan oleh bayangan muka sang kekasih yang pucat pasih.

Kemarau panjang telah melanda Pegunungan Nuansa Bening tiga minggu kebelakang. Segala sumber air yang ada telah mengering. Karena hal itu, Cabai melakukan perjalanan ke Pegunungan seberang demi mendapat seteguk air demi kesembuhsn sang kekasih. Sebelum fajar terbit diufuk timur ia telah berangkat agar teriknya siang tak terlalu menyiksanya nanti. Tomat ia tinggalkan dalam penjagaan Bibi Wortel yang telah menganggap Cabai dan Tomat seperti anaknya sendiri. Cabai merasa sedikit lega karena saat ini kekasihnya berada dalam penjagaan orang yang tepat. Setelah setengah hari berjalan, akhirnya ia sampai di sumber air. Betapa bahagia hatinya seketika itu juga kenangan masa lalu bersama Tomat sang kekasih terputar kembali dalam ingatannya.

“Akhirnya, aku menemukannya, kau akan sembuh Tomatku,” ucap Cabai terharu sambil memasukkan air ke dalam kendi yang di bawanya.

Setelah kendi itu penuh, Cabai pulang ke Pegunungan asalnya. Tiba-tiba cuaca berubah. Dari yang tadinya terang, seketika menjadi gelap. Awan mendung telah menghiasi langit, hujan dari Langit tak lama lagi akan segera jatuh ke pelukan Bumi.

“Mengapa setelah terik tiba-tiba saja mendung seperti ini?” Tanya cabai dalam hati sambil meneruskan langkah pulangnya.

Diperjalanan pulang hujan jatuh begitu deras ke pelukan bumi seakan melepas rindu yang telah lama tak berujung sua. Semesta saat itu sangat bersuka cita. Gemericik air hujan bak irama indah nan mengalun. Tanah tersenyum, bunga-bunga merekah, hewan-hewan bersuka ria. Tak dapat terlukiskan kebahagiaan makhluk pada hari itu.

Setelah setengah hari berjalan, sampailah Cabai ke rumah pohon tempat Tomat sedang dirawat. Alngkah terkejutnya Cabai melihat cintanya telah terbaring tak bernyawa, tangisnya pecah.

“Kenapa engkau harus pergi, saat air telah turun ?” Tanyanya pada tomat yang tergeletak tak bernyawa. Tidak ada jawaban dari si tomat. Hanya suara sisa tetesan hujan.

Sebelum hujan turun, Tomat telah menghembuskan nafas terakhirnya. Tubuhnya sudah menciut karena kekurangan air. Sebelum ia tiada, ia memberikan sepucuk surat kepada bibi Wortel agar nanti diberikan kepada Cabai.

“Cabai yang malang, kuatkan dirimu. Usaikanlah tangismu. Tak ada guna kau menangisi yang telah tiada seperti ini,” ucap Bibi Wortel.

“Aku terlambat Bibi, aku tak bisa menyelamatkannya, semua ini kesalahanku, jikalau saja aku bisa datang kemari lebih cepat, kekasihku takkan mati,” ucapnya penuh penyesalan.

“Tidak nak, semua bukan kesalahanmu, ini semua sudah ditakdirkan. Ini terimalah surat terakhir dari kekasihmu,” ucap Bibi Wortel lalu memberikan sepucuk surat pada Cabai.

Setelah itu Cabai langsung pergi ke sebuah pohon rindang yang berada di tepi sungai, tempat biasa ia menghabiskan waktu berdua dengan kekasihnya. Ia membawa surat yang telah dituliskan Tomat untuk Cabai.  Namun disana sedang ada segerombolan Burung yang sedang minum air. Lalu Seekor burung muda menghampiri Cabai.

“kenapa denganmu?” Tanyanya

“Kekasihku telah mati,” jawab si Cabai

“Hey, dia itu berbeda denganmu. Dia tomat,” ketus Burung.

“Tidak. Aku sama dengannya.”

“Apa yang terjadi denganmu, wahai Cabai?” Tanya heran si Burung.

“Dia itu kekasihku! Kau tidak akan mengerti, kami telah ditakdirkan bersama,” bentak cabai.

Sekawanan burung mendengar teriakan itu. Mereka hinggap pada ranting kering yang sama, berjejer, serupa hakim dihadapan tersangka, si cabai tertunduk lesu. Burung-burung cerdas berbincang sesamanya, semaunya, sedang si cabai larut dalam kesedihannya sendiri. Sisa tetesan air hujan yang jatuh bagai palu menghujam lebih dalam kesedihannya.

“Pergilah kalian. Aku tidak butuh hujatan,” pelan kata si cabai.

 “Biarlah aku menjadi lemah, aku dari tanah yang sama dengannya. Bahkan kami minum dari tetesan yang sama. Dia, kekasihku, dan aku akan segera menyusulnya,” suaranya terputus.

Cabai tersungkur di atas genangan air sembari memeluk surat dari sang kekasih yang belum sempat terbaca olehnya. Ia tiada dalam dukanya. Dukanya yang begitu mendalam telah merenggut nyawanya. Kini ia telah bertemu kekasihnya kembali di keabadian.